EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.520
13.540
au AUD 10.230 10.260
sg SGD 9.980 10.000
hk HKD 1.730 1.740
cn CNY 2.030 2.040
eu EUR 15.900 15.930
tw NTD 460
465
th THB 412 415
jp JPY 120.3 121.3
(Monday) 20 November 2017 
17:00 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 17.910 17.960
ca CAD 10.650 10.700
ch CHF 13.680 13.730
sa SAR 3.595
3.625
nz NZD
9.300 9.350
my MYR 3.235
3.255
ph PHP 263 273
kr KRW 12.1 12.3
bnd BND 9.970 9.990

Pengusaha Minta Dolar AS Jangan Lebih Dari Rp 14.300

Lani Pujiastuti - detikfinance
Senin, 14/09/2015 13:34 WIB
Pengusaha Minta Dolar AS Jangan Lebih Dari Rp 14.300

Jakarta -Nilai tukar dolar AS masih tinggi, hari ini sampai di Rp 14.300. Pelaku usaha merasakan dampaknya, apalagi yang kegiatannya mengimpor barang.

Salah satunya tengah dialami PT Amtex Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang impor bahan kimia. Perusahaan ini rutin mengimpor CMC (karoboksimetil) dari Kolombia yang digunakan sebagai bahan aditif beberapa industri seperti pangan, detergen dan keramik, di Indonesia.

Pengusaha berharap, pemerintah bisa menjaga nilai tukar rupiah saat ini yang dinilai sudah berada pada level memberatkan.

"Kita harap bisa dijaga tidak lebih dari Rp 14.300. Jangan sampai lebih tinggi, itu berat. Semoga kestabilan currency (nilai tukar) bisa dijaga dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini," Kata Terry Suhardjo, Direktur Eksekutif Amtex Indonesia kepada detikFinance di tengah acara Investment Summit Colombia-Indonesia 2015 di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta, Senin (14/9/2015).

Saat ni sedang terjadi resesi di Kolombia sehingga harga komoditas-komoditasnya. Kondisi tersebut, menurut Terry menjadi keuntungan sekaligus kerugian bagi perusahaannya.

"Kolombia terkena dampak juga dari kondisi ekonomi global. Buat kita, itu menguntungkan untuk dapat harga eskpor yang lebih murah. Tapi kita harus jual dengan nilai rupiah saat ini yang tinggi. Untuk mengimpor ke Indonesia, melemahnya rupiah menambah biaya. Diitung-itung sama saja. Jadi di satu sisi untung dapat harga murah tapi impornya jadi mahal," ujar Terry.

Terry menjelaskan, lesunya kondisi ekonomi Indonesia justru lebih berdampak pada bisnisnya. Lesunya ekonomi RI turut mengurangi permintaan CMC dari industri pengguna bahan aditif di Indonesia.

"Demand CMC dari industri menurun. Sementara bahan ini sangat terbatas produksinya di Indonesia sehingga harus dipenuhi dari impor. Kondisi ekonomi saat ini melemahkan industri, produksi ngga jalan, banyak PHK, demand pembelian bahan baku ke kita juga turun. Itu yang kita harus atasi," terangnya.

Dengan kondisi permintaan menurun dan naiknya biaya impor, Terry tetap berusaha bersaing di pasar.

"Kita harus bisa adjust competitive market. Bagaimana pun juga kita tetap ingin dapatkan produk CMC kualitas terbaik yang ada di Kolombia. Ada alternatif China yang biaya transportasinya lebih murah. Tapi kita tidak ambil itu," tambahnya.

Harapannya, industri dalam negeri bisa kembali bergairah supaya permintaan produknya bisa naik. Selain itu, Terry melihat, pemerintah perlu meninjau kembali kebijakan terkait impor.

"Harapan kami, bagaimana kegiatan ekonomi termasuk produksi di dalam negeri bisa kembali bergairah. Kalau mau membatasi impor, batasi yang tidak perlu. Seperti contoh produk makanan jadi yang itu tidak ada nilai tambahnya. Kemudian, sebetulnya kami juga menantikan apa insentif yang ditawarkan bagi importir di tengah kondisi saat ini?" pungkasnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00