EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 14.600
14.640
au AUD 10.500 10.560
sg SGD 10.660 10.700
hk HKD 1.872 1.883
cn CNY 2.117 2.130
eu EUR 16.600 16.700
tw NTD 487 491
th THB 447 452
jp JPY 131 135
(Friday) 14 Desember 2018
  16:43 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4

 

 

EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.610 18.790
ca CAD 10.840 10.970
ch CHF 14.600 14.730
sa SAR 3.870
3.890
nz NZD
9.850 9.990
my MYR 3.495
3.515
ph PHP 270 280
kr KRW 13

13.2

bnd BND 10.650 10.670


 

Dolar AS Nyaris Rp 13.900, BI: Sudah Terjadi 'Perang' Kurs

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Selasa, 18/08/2015 17:57 WIB
Dolar AS Nyaris Rp 13.900, BI: Sudah Terjadi Perang Kurs
 
Jakarta -Dampak pemerintah China melemahkan mata uang Yuan sudah terasa di sektor keuangan negara-negara di dunia terutama negara emerging market termasuk Indonesia.

Dolar AS sempat menanjak hingga ke titik tertingginya hari ini di Rp 13.851. Akibatnya, sejak awal tahun hingga hari ini, rupiah sudah melemah hingga lebih dari 10%

Tak hanya rupiah, mata uang negara-negara lain juga mengalami tekanan. Bank Indonesia (BI) menilai, saat ini sudah terjadi perang kurs alias currency war.

"Sudah terjadi (currency war) secara tidak langsung karena China terus apresiasi sampai 30%, jadi dia terlalu kuat sehingga sekarang melakukan depresiasi mata uangnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara saat ditemui di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Selasa (18/8/2015).

Tirta menjelaskan, mata uang negara-negara mitra dagang China tentu berdampak pada depresiasi mata uang Yuan.

"China sama trading partner-nya sudah mulai dampaknya seperti Malaysia, Australia, lebih dalam dari Indonesia," sebut dia.

Langkah pemerintah China mendevaluasi mata uangnya bertujuan untuk meningkatkan ekspornya. Selama ini, mata uang China terlalu kuat sehingga barang-barang ekspor China kalah bersaing karena terlalu mahal.

Namun, Tirta mengatakan, Indonesia tidak akan mengikuti langkah China untuk bisa menggenjot ekspornya.

"Kalau Indonesia tidak mengikuti langkah China karena kita sudah undervalue, terlalu melemah sehingga tidak perlu diperlemah lagi," ujarnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00