EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.505
13.525
au AUD 10.310 10.340
sg SGD 10.040 10.060
hk HKD 1.730 1.740
cn CNY 2.043 2.053
eu EUR 16.000 16.030
tw NTD 461
466
th THB 414 417
jp JPY 121 122
(Thursday) 24 November 2017 
17:15 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 17.780 18.030
ca CAD 10.660 10.710
ch CHF 13.775 13.825
sa SAR 3.590
3.620
nz NZD
9.400 9.450
my MYR 3.280
3.300
ph PHP 265 275
kr KRW 12.3 12.5
bnd BND 10.030 10.050

 

 

China Bikin Geger Lemahkan Yuan, Ini Positifnya Bagi RI

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Kamis, 13/08/2015 09:49 WIB
China Bikin Geger Lemahkan Yuan, Ini Positifnya Bagi RI
 

Jakarta -Langkah China yang sengaja melemahkan mata uang yuan berdampak luas pada sektor keuangan dunia, termasuk Indonesia. Mata uang negara-negara di dunia tak terkecuali Indonesia ambruk.

Selain posisi rupiah yang sudah terjungkal dan membuat dolar naik ke level Rp 13.795, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun merosot ke level 4.479,491.

Namun demikian, sentimen China ini ada sisi positifnya bagi Indonesia. Apa itu? Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mencoba menganalisa.

Menurutnya, gejolak China ini cukup berpengaruh terhadap perekonomian dunia termasuk Indonesia. Akibat China melemahkan yuan untuk menggenjot ekspornya, sektor keuangan dunia tertekan.

Sentimen China ini justru membuat dolar AS kian perkasa. Di tengah penguatan dolar AS yang semakin meroket, pemerintah AS tentu tidak akan membiarkan mata uangnya terlalu kuat.

Dampaknya, barang-barang ekspor AS akan semakin mahal dan ini tentu akan melemahkan daya saing AS.

Melihat itu, David menilai, sejauh sentimen China ini terus membuat pasar dunia bergejolak, Bank Sentral AS yaitu The Federal Reserve (The Fed), akan menahan niatnya untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan.

"Kemungkinan The Fed akan menunda karena dolar terlalu kuat, ekspor AS akan kalah bersaing jika dolar terlalu mahal," ujarnya kepada detikFinance, Kamis (13/8/2015).

David menyebutkan, tentu ini akan sedikit memberi ruang bagi Indonesia atas 'gempuran' sentimen negatif.

Jika The Fed menunda menaikkan suku bunganya yang direncanakan September 2015, maka para investor juga akan tetap mempertahankan portofolio mereka di Indonesia. Penarikan dana besar-besaran yang diperkirakan sebelumnya tidak akan terjadi.

Namun memang, kata David, penundaan ini akan kembali memberi ketidakpastian ke pasar keuangan. Tapi setidaknya, kekhawatiran soal The Fed sedikit berkurang.

"Tapi ya memang, timbul kembali ketidakpastian, tapi akan menyesuaikan nanti," katanya.

Dihubungi terpisah, Ekonom Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menambahkan, penundaan The Fed akan baik bagi Indonesia.

"Positive thinking, ini baik karena dolar terlalu kuat, AS akan mikir-mikir lagi untuk menaikkan suku bunga, ekspor mereka akan mahal, daya saing menurun," katanya.

Tony menyebutkan, sentimen China tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, ambruknya pasar keuangan dunia termasuk Indonesia lebih karena shock sesaat. Dalam beberapa waktu ke depan, pasar keuangan akan kembali normal.

Di Indonesia, tentu harus diimbangi dengan dorongan sentimen positif dari dalam negeri agar pasar keuangan bisa kembali bergairah.

"Ini respons sesaat. Mereka sedang terkaget-kaget dengan ini. Pasar shock. Rupiah tidak akan melemah lebih lanjut karena sudah undervalue, dan akan kembali positif tapi harus ada sentimen positif dari kita, bisa dorong infrastruktur, serap belanja pemerintah, dan reshuffle," jelas Tony.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00