EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.310
13.330
au AUD 10.560 10.590
sg SGD 9.885 9.905
hk HKD 1.703 1.713
cn CNY 2.018 2.028
eu EUR 15.940 15.970
tw NTD 454
459
th THB 402 405
jp JPY 118.7 119.7
(Friday) 22 September 2017 
17:15 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.130 18.180
ca CAD 10.895 10.945
ch CHF 13.800 13.850
sa SAR 3.525
3.555
nz NZD
9.780 9.830
my MYR 3.155
3.175
ph PHP 259 269
kr KRW 11.8 12
bnd BND 9.875 9.895

Dolar AS Tembus Rp 13.542, Ini Penyebabnya

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Jumat, 07/08/2015 12:20 WIB
Dolar AS Tembus Rp 13.542, Ini Penyebabnya

Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap nilai tukar rupiah. Pagi tadi, dolar AS dibuka naik di posisi Rp 13.542, lebih tinggi dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 13.539 per dolar AS.

Sepertinya pergerakan dolar AS ini masih akan terus menguat, seiring dengan rencana kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, yaitu The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan terjadi pada September 2015.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Destry Damayanti menyebutkan, tak ada faktor yang lebih dominan yang dapat mempengaruhi pergerakan rupiah selain rencana kenaikan Fed fund rate tersebut. Isu ini telah menenggelamkan seluruh mata uang negara di dunia tak terkecuali rupiah.

"Ini global fenomena. Pengaruh global tidak bisa dihindari. Suku bunga AS akan naik di September, ada ketakutan soal ini," katanya kepda detikFinance, Jumat (7/8/2015).

Destry menjelaskan, selain rencana kenaikan suku bunga AS, perekonomian China yang merupakan mitra dagang utama Indonesia juga tengah mengalami perlambatan. Harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia terus merosot. Ini menekan ekspor Indonesia sehingga pasokan dolar AS juga minim.

Di sisi lain, kata Destry, para eksportir masih enggan menyimpan dananya di perbankan Indonesa. Mereka lebih tertarik menaruh uangnya di perbankan luar ngeri yang dianggap lebih menguntungkan. Tak heran, pasokan dolar AS banyak lari ke luar negeri. Likuiditas valas di dalam negeri menjadi kering.

Sementara dari sisi domestik, Destry menyebutkan, pelemahan rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor supply dan demand. Pasokan dolar AS di dalam negeri minim sementara permintaan tinggi. Pembayaran utang dalam kurs dolar AS juga tinggi.

"Bayar utang tidak bisa dihindari," katanya.

Dengan berbagai kondisi tersebut, Destry mengungkapkan, investor asing mulai menghitung ulang untung-ruginya untuk tetap menyimpan dananya di dalam negeri. Kemungkinan The Fed untuk menaikkan suku bunganya menjadi alasan banyak terjadi capital outflow baik melalui obligasi maupun saham.

"Arus modal banyak yang keluar lewat obligasi dan saham. The Fed membuat investor asing kalkulasi ulang, mereka menarik dananya ke luar karena mereka berpikir dolar AS akan terus apresiasi, ini bikin rupiah melemah," jelas Destry.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00