EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 14.100
14.125
au AUD 10.010 10.050
sg SGD 10.395 10.415
hk HKD 1.798 1.806
cn CNY 2.075 2.083
eu EUR 15.930 15.970
tw NTD 452 458
th THB 449 453
jp JPY 128 128.5

 

 

(Friday) 15 Februari 2019
  17:15 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4

 

 

EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.050 18.180
ca CAD 10.520 10.660
ch CHF 13.970 14.110
sa SAR 3.750
3.780
nz NZD
9.560 9.700
my MYR 3.450
3.470
ph PHP 269 282
kr KRW 12.4

12.6

bnd BND 10.385 10.410

 


 

Dolar AS Tembus Rp 13.500, BI: Kami Sudah Turun ke Pasar

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Kamis, 06/08/2015 16:25 WIB
Dolar AS Tembus Rp 13.500, BI: Kami Sudah Turun ke Pasar
Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat hingga di kisaran Rp 13.530. Kondisi tersebut diperburuk dengan kondisi perekonomian Indonesia yang melambat. Di kuartal II-2015, pertumbuhan ekonomi hanya 4,67% atau lebih rendah dari kuartal I-2015 sebesar 4,71%.

Apa yang dilakukan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter merespons pelemahan rupiah ini?

"Kita sudah turun ke pasar," kata Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Yati Kurniati dalam Infobank Outlook Midyear 2015, Gairah Baru Bisnis Otomotif dan Properti Nasional, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (6/8/2015).

Yati menjelaskan, pihaknya selaku otoritas moneter sudah melakukan berbagai langkah dan kebijakan dengan menggelontorkan cadangan devisa untuk bisa menekan volatilitas rupiah.

"BI sudah melakukan intervensi dan kebijakan intervensi untuk menjaga volatilitasnya, kita tidak mau menggarami air laut jadi kita melihat apa yang menjadi penyebab nilai tukar, kapan kita masuk, kapan kita melepas cadangan devisa kita," jelas dia.

Yati menyebutkan, perlambatan perekonomian saat ini terjadi tidak hanya di dalam negeri namun juga secara global. Untuk itu, pihaknya melakukan kebijakan-kebijakan untuk tetap memberikan optimisme di pasar keuangan.

"Kebijakan kami untuk menumbuhkan optimisme. Tugas kami menjaga supaya perlambatan tidak berlangsung terus dan berupaya optimis. Kalau semua pesimis, jadi terbawa makin terperosok," katanya.

Tantangan perekonomian global, kata dia, tentu menekan perekonomian Indonesia. Negara-negara tujuan ekspor Indonesia seperti China juga tengah melambat, hal ini berdampak pada nilai ekspor Indonesia.

"Negara-negara yang melambat negara-negara partner dagang utama yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekspor, harga komoditas turun, di mana ekspor kita tergantung komoditas, permasalahan semakin kompleks," katanya.

Meski begitu, Yati meyakini, perekonomian Indonesia ke depan akan bisa pulih dengan dorongan pemerintah melalui percepatan proyek-proyek infrastruktur.

"Ekonomi Indonesia dalam jangka pendek akan membaik, jangka menengah akan meningkat dengan didukung oleh reformasi struktural," imbuhnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00