EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.505
13.525
au AUD 10.310 10.340
sg SGD 10.040 10.060
hk HKD 1.730 1.740
cn CNY 2.043 2.053
eu EUR 16.000 16.030
tw NTD 461
466
th THB 414 417
jp JPY 121 122
(Thursday) 24 November 2017 
17:15 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 17.780 18.030
ca CAD 10.660 10.710
ch CHF 13.775 13.825
sa SAR 3.590
3.620
nz NZD
9.400 9.450
my MYR 3.280
3.300
ph PHP 265 275
kr KRW 12.3 12.5
bnd BND 10.030 10.050

 

 

Dolar AS Tembus Rp 13.500, BI: Kami Sudah Turun ke Pasar

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Kamis, 06/08/2015 16:25 WIB
Dolar AS Tembus Rp 13.500, BI: Kami Sudah Turun ke Pasar
Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat hingga di kisaran Rp 13.530. Kondisi tersebut diperburuk dengan kondisi perekonomian Indonesia yang melambat. Di kuartal II-2015, pertumbuhan ekonomi hanya 4,67% atau lebih rendah dari kuartal I-2015 sebesar 4,71%.

Apa yang dilakukan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter merespons pelemahan rupiah ini?

"Kita sudah turun ke pasar," kata Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Yati Kurniati dalam Infobank Outlook Midyear 2015, Gairah Baru Bisnis Otomotif dan Properti Nasional, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (6/8/2015).

Yati menjelaskan, pihaknya selaku otoritas moneter sudah melakukan berbagai langkah dan kebijakan dengan menggelontorkan cadangan devisa untuk bisa menekan volatilitas rupiah.

"BI sudah melakukan intervensi dan kebijakan intervensi untuk menjaga volatilitasnya, kita tidak mau menggarami air laut jadi kita melihat apa yang menjadi penyebab nilai tukar, kapan kita masuk, kapan kita melepas cadangan devisa kita," jelas dia.

Yati menyebutkan, perlambatan perekonomian saat ini terjadi tidak hanya di dalam negeri namun juga secara global. Untuk itu, pihaknya melakukan kebijakan-kebijakan untuk tetap memberikan optimisme di pasar keuangan.

"Kebijakan kami untuk menumbuhkan optimisme. Tugas kami menjaga supaya perlambatan tidak berlangsung terus dan berupaya optimis. Kalau semua pesimis, jadi terbawa makin terperosok," katanya.

Tantangan perekonomian global, kata dia, tentu menekan perekonomian Indonesia. Negara-negara tujuan ekspor Indonesia seperti China juga tengah melambat, hal ini berdampak pada nilai ekspor Indonesia.

"Negara-negara yang melambat negara-negara partner dagang utama yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekspor, harga komoditas turun, di mana ekspor kita tergantung komoditas, permasalahan semakin kompleks," katanya.

Meski begitu, Yati meyakini, perekonomian Indonesia ke depan akan bisa pulih dengan dorongan pemerintah melalui percepatan proyek-proyek infrastruktur.

"Ekonomi Indonesia dalam jangka pendek akan membaik, jangka menengah akan meningkat dengan didukung oleh reformasi struktural," imbuhnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00