EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 14.100
14.125
au AUD 10.010 10.050
sg SGD 10.395 10.415
hk HKD 1.798 1.806
cn CNY 2.075 2.083
eu EUR 15.930 15.970
tw NTD 452 458
th THB 449 453
jp JPY 128 128.5

 

 

(Friday) 15 Februari 2019
  17:15 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4

 

 

EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.050 18.180
ca CAD 10.520 10.660
ch CHF 13.970 14.110
sa SAR 3.750
3.780
nz NZD
9.560 9.700
my MYR 3.450
3.470
ph PHP 269 282
kr KRW 12.4

12.6

bnd BND 10.385 10.410

 


 

Kinerja Perbankan RI: Pertumbuhan Kredit Rendah, Kredit Macet Naik

Angga Aliya - detikfinance
Kamis, 06/08/2015 09:38 WIB
Kinerja Perbankan RI: Pertumbuhan Kredit Rendah, Kredit Macet Naik

Jakarta -Kinerja perbankan dalam negeri sedang mengalami hambatan. Akibat ekonomi yang lesu, pertumbuhan penyaluran kredit melambat, ditambah kredit macet (non performing loan/NPL) naik.

Menurut Analis Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Seno Agung Kuncoro, perlambatan di periode April 2015 bukan saja dialami oleh penyaluran kredit, tetapi juga dialami oleh penghimpunan dana pihak ketiga.

"Menurunnya money supply dari aktivitas neraca perdagangan sepertinya mulai memberikan dampak yang tidak kecil terhadap kinerja industri perbankan. Kredit tumbuh sebesar 10,4% terendah sejak April 2010," katanya dalam Laporan Perekonomian dan Perbankan LPS bulan Juli, Kamis (6/8/2015).

Meskipun demikian, diprediksi dalam waktu 1 tahun ke depan pertumbuhan kredit akan membaik, tetapi tidak bisa diabaikan juga bahwa potensi pemulihan ini terekspos pada risiko perekonomian global yang lebih sulit untuk ditebak.

Hal ini bisa dilihat dari terjadinya krisis utang Yunani, penurunan tajam bursa China, ketegangan di timur tengah, antisipasi kenaikan fed fund rate (suku bunga acuan di AS), dan lain-lain.

Menurutnya, faktor tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi para pelaku ekonomi dalam menyusun rencana bisnisnya.

Pada Juli 2015, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 menjadi 5% (sebelumnya: 5,5%), seiring masih lambatnya penyerapan anggaran dan realisasi penerimaan pajak hingga semester I-2015. Selain itu, dampak positif realokasi subsidi BBM, revisi aturan perizinan dan akuisisi lahan belum dirasakan.

Sementara itu, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level 4,7% (sebelumnya: 5,2%), akibat rendahnya harga komoditas dan melemahnya pertumbuhan investasi.

"Dengan revisi proyeksi pertumbuhan perekonomian Indonesia yang lebih rendah maka sampai dengan akhir 2015 kinerja pertumbuhan perbankan seharusnya tidak lebih baik dari tahun 2014. Ekspansi kredit yang jauh dari ekspektasi membawa pesan, perekonomian akan bergerak lamban," ucapnya.

Seno mengatakan, kecemasan terhadap kinerja perbankan bukan hanya dari melambatnya pertumbuhan kredit, tetapi juga dari potensi kenaikan jumlah kredit bermasalah.

Tanpa ekspansi kredit yang tinggi, sumber daya yang dimiliki perbankan tentu banyak yang menganggur (idle), sehingga peluang untuk memperbaiki kredit bermasalah akan sangat rasional. Namun, hal itu tidak terjadi karena sampai dengan awal kuartal II-2015 kredit macet perbankan justru semakin meningkat.

Data pertumbuhan NPL baik nominal maupun secara rasio menunjukkan tren peningkatan selama setahun terakhir. Pertumbuhan NPL nominal naik signifikan dari 12,2% yoy pada April 2014 menjadi 33,8% yoy pada April 2015.

"Rasio Gross NPL perbankan juga mengalami peningkatan namun masih di bawah regulatory comfort zone 5%, yakni naik dari 2,05% pada April 2014 menjadi sebesar 2,48% pada April 2015 atau meningkat sebanyak 43 bps," jelasnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00