EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.310
13.330
au AUD 10.560 10.590
sg SGD 9.885 9.905
hk HKD 1.703 1.713
cn CNY 2.018 2.028
eu EUR 15.940 15.970
tw NTD 454
459
th THB 402 405
jp JPY 118.7 119.7
(Friday) 22 September 2017 
17:15 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.130 18.180
ca CAD 10.895 10.945
ch CHF 13.800 13.850
sa SAR 3.525
3.555
nz NZD
9.780 9.830
my MYR 3.155
3.175
ph PHP 259 269
kr KRW 11.8 12
bnd BND 9.875 9.895

Malaysia Tak Akan Lagi Sulitkan Bank RI Buka Cabang

Wahyu Daniel - detikfinance
Kamis, 30/07/2015 09:43 WIB
Malaysia Tak Akan Lagi Sulitkan Bank RI Buka Cabang

Jakarta -Menyongsong pasar bebas ASEAN di sektor ekonomi termasuk perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai bergerak mendorong perbankan dalam negeri bermain di kancah regional Asia Tenggara.

Salah satu yang dilakukan adalah, membuat kesepakatan dengan negara tetangga agar perbankan Indonesia diperlakukan sama, seperti Indonesia memperlakukan bank dari negara tetangga di dalam negeri. Selama ini, bank asal Indonesia dipersulit membuka cabang di negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad mengatakan, pihaknya akan meneken perjanjian dengan Malaysia agar ada kesetaraan perlakuan untuk bank asal Indonesia yang membuka cabang, dan persyaratan diperlunak.

"Malaysia tidak lagi menutup-nutupi dan membatasi. September bank asal Indonesia yang buka cabang di Malaysia dianggap domestic bank, seperti bank domestik lainnya. Ini bagus untuk semangat resiprokal (kesetaraan perlakuan). Kami dorong harus saling menguntungkan, itu semangatnya. Karena kalau ada yang diuntungkan dan dirugikan, maka bukan integrasi yang kita tuju," tutur Muliaman dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa, di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (30/7/2015).

Kesepakatan yang dibuat OJK ini, ujar Muliaman, dilandasi oleh semangat saling menguntungkan antar kedua negara. Jangan sampai, banyak bank asal Malaysia yang mudah buka di Indonesia, namun bank asal Indonesia dipersulit buka cabang di negeri jiran itu.

Selain di Malaysia, OJK juga tengah menjajaki perjanjian yang sama dengan Singapura. Sehingga bank asal Indonesia bisa mulai belajar menjadi pemain di regional, sebelum pasar bebas perbankan ASEAn dibuka pada 2020 nanti. Konteks perjanjian yang dibuat ini sifatnya bilateral. "Dengan Singapura masih ada beberapa tahap lagi, akan ada delegasi Singapura kemari (Indonesia), untuk memfinalisasi bilateral agreement. Ini konteksnya bilateral," papar Muliaman.

Pada kesempatan itu Muliaman mengatakan, perbankan Indonesia bisa maju di regional, bila pengusaha di sektor riil ikut berekspansi di ASEAN. "Pasar ASEAN dengan 600 juta penduduk sangat potensial untuk dimasuki pelaku bisnis kita. Karena bank itu biasanya follow the trade (mengikuti bisnis)," kata Muliaman.

"Kami mendorong pengusaha buka bisnis di ASEAN. Karena ujug-ujug bank buka cabang di luar negeri akan sulit," ujar Muliaman..

Dia mengatakan, perbankan Indonesia saat ini harus mulai membangun diri, baik dari sisi kapasitas kelembagaan maupun sumber daya manusia, agar siap menghadapi pasar bebas ASEAN. Selama ini harus diakui, bank di Indonesia fokus kepada pasar di dalam negeri, karena memang pasarnya besar. Beda dengan bank di negeri tetangga, yang memperluas pasarnya ke luar negeri, karena kecilnya pasar di dalam negeri mereka.

"Bank kita itu domestic oriented karena pasar yang besar, kalau negara lain itu terbalik. Jadi ketika integrasi (ASEAN) kita bisa jadi tertinggal. Jadi perlu kita bangun kapasitas kelembagaan dan SDM industri keuangan indonesia agar bisa masuk integrasi ASEAN," ungkapnya.

Keinginan bank-bank asal Indonesia untuk membuka cabang di luar negeri, khusus negara tetangga memang menghadapi banyak tantangan selama ini. Contoh saja di Malaysia, yang persyaratan modal membuka cabang bank asing yang tinggi.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Budi Gunadi Sadikin pernah mengatakan di Malaysia, bank asing diharuskan memiliki modal Rp 3 triliun dan hanya boleh membuka satu cabang. "Kalau satu cabang ya harusnya Rp 100 miliar sudah cukup. Kondisi seperti itu yang masih jadi kendala," kata Budi.

"Kalau buka cabang di Indonesia modalnya paling Rp 2 miliar sampai Rp 3 miliar. Misal suruh buka satu cabang tapi harus setor Rp 3 triliun susah kami. Itu halangannya. Kami buka dengan modal Rp 5 triliun pun tidak masalah, asal jangan dibatasi jumlahnya, kami dicegatnya di sini," tutur Budi.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00