EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.860
13.910
au AUD 10.675 10.705
sg SGD 10.465 10.485
hk HKD 1.776 1.786
cn CNY 2.172 2.182
eu EUR 16.460 16.490
tw NTD 465
470
th THB 438 441
jp JPY 128 129
(Friday) 08 Juni 2018 
09:00 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.745
18.795
ca CAD 10.800 10.850
ch CHF 14.225 14.275
sa SAR 3.725
3.755
nz NZD
9.965 10.015
my MYR 3.515
3.525
ph PHP 262 272
kr KRW 13.1

13.3

bnd BND 10.450 10.470


 

Nilai Tukar Ringgit Malaysia Diprediksi Masih Anjlok pada 2017

NEW YORK, KOMPAS.com - Selain mata uang peso Filipina, mata uang ringgit Malaysia adalah jajaran mata uang berkinerja terburuk di Asia Tenggara sepanjang tahun 2016.

BMI Research memprediksi nilai tukar ringgit masih akan melemah pada tahun 2017 ini.

Mengutip Bloomberg, Kamis (5/1/2017), alasannya adalah ringgit terpengaruh oleh mata uang yuan China yang tetap akan tertekan ke bawah.

Selain itu, ada juga kecenderungan menipisnya perbedaan anrara suku bunga riil AS dan Malaysia, di mana ada probabilitas ditahan, sementara suku bunga AS ada kemungkinan naik 50 basis poin.

BMI Research pun menyatakan pelemahan lebih lanjut di pasar obligasi global juga akan menekan ringgit lebih dalam. Pasalnya, 40 persen obligasi Malaysia dimiliki oleh asing.

BMI telah menurunkan proyeksi untuk ringgit, di mana diekspektasikan rerata pada level 4,50 per dollar AS pada tahun ini dan 4,40 per dollar AS pada tahun 2018 dari sebelumnya masing-masing 4 dan 3,88.

Sepanjang tahun 2016, ringgit melemah 4,3 persen terhadap dollar AS dan pada tahun 2015 melemah 18,5 persen terhadap dollar AS.

Sejak tahun 2012, ringgit belum pernah mengalami penguatan secara tahunan terhadap dollar AS.

Laporan BMI menyatakan, ekonomi China masih berada dalam perlambatan jangka menengah sejalan dengan pelemahan struktural seperti overkapasitas pada sektor industri dan dominasi BUMN yang tidak efektif.

"Karena China adalah mitra ekspor terbesar Malaysia, kami yakin bahwa ekonomi Malaysia yang didorong ekspor akan tetap terekspos dan terdampak negatif," tulis BMI.

Namun, dalam jangka waktu yang lebih panjang, ada kemungkinan ringgit menguat, didorong oleh penguatan harga komoditas seperti minyak dan membaiknya perdagangan.

Menurut BMI, ini baik untuk investasi. Selain itu, posisi fismal Malaysia yang relatif positif terhadap AS juga bisa membantu menjaga tekanan inflasi.

Namun demikian, jika The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat maka aliran modal bisa kabur dari Malaysia dan kembali menekan ringgit.

Di samping itu, BMI memandang pemerintahan presiden terpilih AS Donald Trump juga meningkatkan kecenderungan perlambatan perdagangan global.

Sektor ekspor Malaysia pun bisa "menderita" jika kebijakan proteksionisme diberlakukan.

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Aprillia Ika
Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00